<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6582868592810472999</id><updated>2011-11-16T04:05:37.149-08:00</updated><category term='Etika Kristen'/><category term='banjir nuh'/><category term='Kristus Dan Kebudayaan'/><title type='text'>bernhard ita</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Michael Bernhard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16096355344246104924</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_lxxZiy9N-n8/R6rr4OMe-RI/AAAAAAAAAAM/EcShXojQVdo/S220/mmm+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6582868592810472999.post-8991976512110777145</id><published>2008-03-07T04:30:00.001-08:00</published><updated>2008-03-07T04:33:04.071-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kristus Dan Kebudayaan'/><title type='text'>Book Review: H. Richard Niebuhr, Kristus dan Kebudayaan, Jakarta: Petra Jaya</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Buku&lt;i&gt; Kristus dan Kebudayaan&lt;/i&gt; merupakan karya tulis Richard Niebuhr yang dicetak dan diperluas dari seri kuliah di Austin Prebyterian Theological Seminary, Januari 1949 dalam rangka Alumni Foundation.  Buku Kristus dan Kebudayaan ini merupakan suatu esai tentang pergumulan rangkap yang dialami gereja, yaitu hubungan dengan Tuhannya dan dengan masyarakat budaya beserta kehidupannya dalam suatu keharmonisan, yang mengetengahkan bagian dari hasil studi, renungan dan pengajaran selama bertahun-tahun.  Dalam batas tertentu, si penulis menyatakan bahwa buku ini tidak lebih dari usaha untuk melengkapi dan sebagian lainnya untuk mengoreksi buku Ajaran Sosial Gereja Kristen karya Ernst Troeltsch.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dengan gaya bahasa yang ilmiah, dan pembahasan pandangan dari teolog-teolog kristen yang terkenal, seperti Martin Luther, Augustinus, Albert Ritschl, dll,  terlihat jelas bahwa penulis buku ini sangat menguasai materi yang dibicarakannya, dan ingin agar para pembacanya dapat memiliki pemahaman yang seimbang mengenai korelasi antara Kristus dan Kebudayaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Malcolm menyusun buku ini ke dalam 7 bagian: Pada bagian pertama “Permasalahan yang menetap”, penulis membahas permasalahan mengenai korelasi antara Kristus dan kebudayaan, definisi tentang Kristus dan kebudayaan, serta jawaban-jawaban khas yang diberikan terhadap permasalahan ini, yaitu Kristus lawan kebudayaan, Kristus dari kebudayaan, Kristus di atas kebudayaan, Kristus dan kebudayaan dalam paradoks, dan Kristus pengubah kebudayaan - yang masing-masing dibahas secara mendalam oleh penulis pada bagian ke dua sampai bagian ke enam. Pada bagian ke tujuh “Satu Catatan Kesimpulan Non-Ilmiah”, penulis memberikan kesimpulan dari permasalahan mengenai korelasi antara Kristus dan kebudayaan, dan jawaban-jawaban khas yang diberikan.  Dan pada bagian akhir ini juga, Penulis membahas mengenai relativisme iman, ekstensialisme sosial, serta kebebasan dalam kebergantungan yang merupakan tanggapan penulis terhadap permasalahan mengenai Kristus dan kebudayaan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Niebuhr berpendapat bahwa setiap jawaban-jawaban khas yang diberikan oleh orang-orang Kristen terhadap masalah ini tidak disimpulkan dan tidak dapat disimpulkan, sebab permasalahan ini dapat diperluas tanpa batas(h. 263).  Akan tetapi Niebuhr juga berpendapat bahwa jawaban-jawaban tersebut tidak sepenuhnya saling mengecualikan, melainkan ada kemungkinan-kemungkinan untuk mempertemukan jawaban-jawaban tersebut pada banyak titik atau kesamaan pandangan pada berbagai jawaban tersebut (h. 264).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Niebuhr berpendapat bahwa perbedaan jawaban-jawaban dan kesulitan untuk menyimpulkan setiap tersebut disebabkan oleh karena relativitas iman dan eksistensialime sosial yang dimiliki setiap orang kristen. Akan tetapi penulis kembali berpendapat bahwa di dalam iman dunia kebudayaan tersebut ada di dalam dunia anugerah-Kerajaan Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dari karya Niebuhr ini, saya melihat bahwa pembahasannya telah disusun secara sistematis, dimulai dari bagian pertama mengenai pembahasan persoalan korelasi Kristus dan kebudayaan, dilanjutkan bagian ke dua sampai bagian ke enam mengenai pembahasan secara detail terhadap setiap jawaban khas yang diberikan mengenai persoalan ini, dan diakhiri dengan bagian ketujuh yang merupakan suatu kesimpulan dari perbedaan setiap jawaban tersebut yang disebabkan oleh relativisme islam dan eksistensialisme sosial yang dimiliki setiap individu. Yang juga menjadi kelebihan dari buku ini ialah terletak pada pembahasan Niebuhr secara objektif mengenai tiap pendapat atau jawaban yang diberikan terhadap persoalan ini. Di dalam buku ini penulis dengan cermat dan jeli membahas mengenai setiap jawaban, tokoh-tokoh yang menggagasnya dan kekurangan yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Hanya saja yang menjadi kekurangan pada buku ini ialah tidak adanya pembahasan penulis mengenai korelasi antara Kristus dan kebudayaan dalam konteks Indonesia. Akan tetapi itu bukanlah kesalahan atau kekurangan yang dimiliki penulis, melainkan tugas dan tanggung jawab dari orang Kristen di Indonesia dalam memikirkan persoalan ini, sehingga sesuai dengan konteks Indonesia.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6582868592810472999-8991976512110777145?l=saintbernhard85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/feeds/8991976512110777145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6582868592810472999&amp;postID=8991976512110777145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/8991976512110777145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/8991976512110777145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/2008/03/book-review-h-richard-niebuhr-kristus_07.html' title='Book Review: H. Richard Niebuhr, Kristus dan Kebudayaan, Jakarta: Petra Jaya'/><author><name>Michael Bernhard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16096355344246104924</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_lxxZiy9N-n8/R6rr4OMe-RI/AAAAAAAAAAM/EcShXojQVdo/S220/mmm+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6582868592810472999.post-8347840203168433217</id><published>2008-03-07T04:25:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T04:28:29.127-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etika Kristen'/><title type='text'>Book Review: Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-Faktor Di Dalamnya. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995.</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt;Malcolm Brownlee, &lt;i&gt;Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-Faktor Di Dalamnya&lt;/i&gt;. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995.135 hal.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Buku&lt;i&gt; Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-Faktor Di Dalamnya&lt;/i&gt; merupakan karya tulis Malcolm Brownlee untuk memenuhi kebutuhan buku-buku yang lebih baik dalam bidang etika kristen, dan melengkapi buku-buku etika yang telah diterbitkan sebelumnya. Melalui buku ini, si penulis berharap agar tulisannya dapat membantu perkembangan orang kristen sebagai pembuat keputusan-keputusan etis, supaya pertimbangan etis yang diambilnya menjadi lebih peka pada kehendak Allah dan perbuatan-perbuatannya menjadi lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Dengan gaya bahasa yang ilmiah, sederhana dan penggunaan ayat-ayat Alkitab sebagai referensi, terlihat jelas bahwa penulis buku ini sangat menguasai materi yang dibicarakannya, dan ingin agar para pembacanya dapat mengambil keputusan secara etis berdasarkan nila-nilai kristiani.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Malcolm menyusun buku ini ke dalam 3 bagian: Pada bagian pertama “Pengambilan Keputusan Etis Dalam Pengalaman Orang Percaya Dan Theologia Kristen”, penulis membahas arti keputusan etis, tiga jalan dalam etika kristen, dan I Korintus 10:23-11:1 sebagai pola pertimbangan etis. Pada bagian kedua “Faktor-Faktor Dalam Pengambilan Keputusan Etis”, penulis membahas mengenai iman, tabiat, lingkungan sosial, norma-norma, dan situasi. Setelah memahami apa itu keputusan etis, dan faktor-faktor di dalamnya, pada bagian ketiga “Kesimpulan Pembahasan; Prakata Tindakan”, penulis membahas mengenai cara pengambilan keputusan etis. Jadi, dapat dipahami bahwa dua bagian pertama buku ini merupakan dasar pemahaman penulis terhadap pengambilan keputusan etis dalam hidup orang kristen, dan bagian terakhir merupakan kesimpulan dari bagian-bagian sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Menurut Malcolm, pada masa ini orang-orang di Indonesia menghadapi banyak situasi yang ruwet, namun norma-norma tradisional seringkali tidak mudah diterapkan dengan langsung pada situasi-situasi yang baru ini, sehingga semakin sulit dalam mengambil keputusan etis. Akibat dari kesulitan ini menimbulkan dua kecenderungan; Pertama, mempertahankan peraturan-peraturan yang lama dan menerapkannya secara harfiah dan ketat. Yang kedua, membuang peraturan-peraturan itu karena dianggap tidak relevan untuk situasi baru. Akan tetapi yang seringkali terjadi pada pelaksanaannya, banyak orang yang menggabungkan dua kecenderungan yang berlainan ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Melihat situasi yang semakin ruwet ini, Malcolm berpendapat bahwa norma-norma yang berasal dari adat Indonesia serta norma-norma dari agama Kristen masih memberi bimbingan yang perlu diperhatikan untuk menentukan perbuatan yang benar. Lebih jauh lagi ia berpendapat bahwa norma-norma ini perlu dipakai secara terbuka bukan secara kaku, sebab dalam pengambilan keputusan secara etis perlu diperhatikan juga faktor-faktor lain yang terlibat, seperti iman, tabiat, lingkungan sosial, dan situasi. Memang pendekatan ini lebih ruwet daripada yang tradisional, namun lebih memadai dalam masyarakat majemuk (h. 27).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Walaupun orang kristen tetap harus mengambil keputusan untuk diri sendiri, namun Malcolm menyadari bahwa orang kristen memerlukan sumber-sumber bantuan yang dapat menolong untuk mengambil keputusan etis yang baik, tepat, dan benar, yaitu; (1) Doa, ibadah, Roh Kudus, (2) Gereja dan orang-orang lain, (3) Alkitab, dan (4) Bahan Bacaan lain.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Dan pada bagian akhir Malcolm menyadari bahwa orang kristen tidak dapat belajar, berpikir, dan berbicara secara terus menerus tanpa bertindak untuk mengambil keputusan. Sebab yang seringkali terjadi ialah orang kristen harus mengambil keputusan berdasarkan informasi yang kurang lengkap, bahkan setiap keputusan yang diambil tidak mungkin selalu sempurna. Oleh karena itu perlu ditambahkan bahwa tindakan-tindakan etis merupakan cara penting untuk menambah pengertian orang kristen tentang bagaimana mengambil keputusan yang tepat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Dari karya Malcolm ini, saya melihat bahwa pembahasannya telah disusun secara sistematis, dimulai dari bagian pertama mengenai pengambilan keputusan etis bagi orang kristen, dilanjutkan bagian kedua mengenai pembahasan secara detail dan komprehensif akan faktor-faktor yang diperhatikan dalam pengambilan keputusan, dan diakhiri dengan bagian ketiga mengenai cara pengambilan keputusan etis. Yang juga menjadi kelebihan dari buku ini ialah terletak pada pengamatan Malcolm secara objektif mengenai tiga jalan dalam etika, yaitu etika akibat, etika kewajiban, dan etika tanggung jawab. Di dalam buku ini penulis dengan cermat dan jeli membahas mengenai kelebihan, kekurangan, dan kaitan antara ketiga jalan etika ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Hanya saja yang menjadi kekurangan pada buku ini ialah kurangnya pembahasan penulis mengenai korelasi antara norma-norma dari adat Indonesia dan norma-norma dari agama kristen yang menurut dia masih memberikan bimbingan yang perlu diperhatikan untuk menentukan perbuatan etis yang benar. Seperti apa hubungan yang terdapat antara norma-norma adat Indonesia dan kristen, sehingga dapat memberikan bimbingan mengenai perbuatan etis? Menyadari bahwa Indonesia merupakan negara yang majemuk, sehingga terdapat beberapa perbedaan mengenai norma-norma adat yang ada di setiap daerah dan suku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: webdings;" align="justify"&gt; Namun terlepas dari penilaian mengenai kelebihan dan kekurangan buku ini, Malcolm telah mencoba untuk memberikan masukan-masukan yang berarti bagi perkembangan etika kristen di Indonesia, walaupun ia bukanlah seorang rakyat Indonesia. Dan kiranya melalui buku ini, dapat melahirkan para tokoh-tokoh yang mampu memikirkan masalah-masalah etika yang aktual di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6582868592810472999-8347840203168433217?l=saintbernhard85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/feeds/8347840203168433217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6582868592810472999&amp;postID=8347840203168433217' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/8347840203168433217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/8347840203168433217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/2008/03/book-review-malcolm-brownlee.html' title='Book Review: Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-Faktor Di Dalamnya. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995.'/><author><name>Michael Bernhard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16096355344246104924</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_lxxZiy9N-n8/R6rr4OMe-RI/AAAAAAAAAAM/EcShXojQVdo/S220/mmm+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6582868592810472999.post-5923350263561282234</id><published>2007-10-18T07:26:00.000-07:00</published><updated>2007-10-18T07:33:06.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banjir nuh'/><title type='text'>banjir nuh</title><content type='html'>BANJIR NUH.&lt;br /&gt;Masalah ini merupakan salah satu masalah di antara sekian masalah yang terdapat di dalam kitab Kejadian. Ada begitu banyak pandangan yang dikemukakan oleh para ahli mengenai masalah lingkup banjir Nuh ini. Ada pandangan dari para ahli yang menyatakan bahwa banjir Nuh ini terjadi secara lokal tapi ada juga pandangan yang berpendapat bahwa banjir Nuh ini terjadi secara global. Dan tiap pandangan mempunyai alasan masing-masing.&lt;br /&gt;Beberapa alasan tersebut ialah:&lt;br /&gt;a. Secara Global.&lt;br /&gt;1. Dimana sewaktu banjir Nuh berlangsung, segala sesuatu tenggelam di dalam air, dan bumi menjadi tak berbentuk dan kosong seperti dahulu. Dan yang sungguh ironis, kata “samudera raya” dalam Kejadian 1:2 (tehom) muncul di pasal 7:11, pada waktu segala mata air samudera raya yang dashyat terbelah. Tampaknya seolah-olah seluruh bumi kembali kepada keadaan kacau-balau yang berair.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Pada waktu air naik semakin tinggi “ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit” sampai lima belas hasta (sekitar enam meter) di atasnya (7:19-20). Karena air selalu berusaha membentuk permukaan yang rata sendiri, bagaimana mungkin air itu menutupi sebuah gunung tinggi tanpa menutupi seluruh bumi? Sekalipun pegunungan Alpen dan Himalaya dikecualikan, hampir tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup dalam banjir sedahsyat itu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut Kejadian 7:23, “Segala yang di muka bumi ... dihapuskan,” termasuk manusia, binatang, dan burung. Yang bertahan hidup itu hanyalah Nuh dan keluarganya dan segala makhluk hidup yang mencari perlindungan di dalam bahtera itu. Jika banjir Nuh hanya bersifat lokal, mengapa harus membawa masuk binatang-bnatang dan burung-burung ke dalam bahtera itu? Sudah pasti Mesopotamia akan segera dipenuhi lagi dengan makhluk-makhluk yang dengan aman menjauhi daerah itu selama air bah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. Pada waktu Allah mengadakan perjanjian bersama Nuh setelah air bah itu, Ia berjanji bahwa tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi ini dengan air bah (Kej. 9:11). Mengingat begitu banyak banjir lokal yang selama ini telah memporak-porandakan planet kita sejak waktu itu, rupanya Allah telah melanggar janji-Nya, atau itu memang membuktikan bahwa air bah zaman Nuh memang meliputi seluruh bumi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa air bah itu meliputi bumi selama lima bulan, dan bahwa diperlukan tujuh bulan lagi sebelum Nuh dapat turun dari bahtera di pegunungan Ararat. Air bah yang dapat bertahan 371 hari pasti adalah air bah universal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. Kesaksian Rasul Petrus. Salah satu bagian Alkitab terpenting yang berhubungan dengan besarnya banir tersebut adalah II Pet. 3:3-7. Rasul Petrus menjawab orang-orang skeptis mengenai akhir zaman dengan menunjukkan pada dua peristiwa yang pasti telah terjadi dan yang tak dapat diterangkan oleh uniformitarianisme naturalistis: penciptaan (“oleh Firman Allah langit telah ada sejak dahulu dan juga bumi”) dan air bah (“bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah”). Petrus khususnya membandingkan air bah dengan kedatangan Kristus kali yang kedua dan kebinasaan terakhir dunia ini. Oleh karena penciptaan dan kebinasaan terakhir dunia ini sifatnya universal, pastilah air bah pada zaman Nuh juga universal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7. Maksud air bah. Air bah dimaksudkan untuk menghukum seluruh populasi yang berdosa pada masa sebelum air bah (Kej. 6:5-7, 11-13). Sesuatu yang kurang dari air bah yang universal tak akan mencapai maksud ini. Karena bila ditinjau dari sudut umur panjang manusia pada masa sebelum air bah dan dari segi pola-pola migrasi manusia dennagn kondisi ideal pada umumnya, tidak dapat dibayangkan bahwa manusia hanya tinggal di lembah Mesopotamia selama air bah. Oleh karenanya, air bah itu pastilah air bah universal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b. Secara Lokal.&lt;br /&gt;1. Secara geografis, cerita mengenai Nuh dan keluarganya bertempat di Mesopotamia, dan bahkan selama lebih satu tahun di dalam bahtera itu mereka mendarat di “Pegunungan Ararat” (Kej. 8:4), yaitu di wilayah Urartu Purba di bagian utara Asyur. Jika Nuh sudah terapung-apung selama lebih dari satu tahun, mengapa bahtera itu tidak terhanyut lebih jauh daripada ratusan kilometer ke Urartu? Bila kita mempertimbangkan bumi yang begitu luas ini, maka sangat luar biasa bahwa Nuh mendarat begitu dekat dengan tempat ia naik bahtera itu, kecuali kalau banjir itu terbatas pada wilayah Mesopotamia dan Timur dekat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Pada waktu Alkitab berbicara mengenai air yang semakin bertambah-tambah naik dan menutupi “segala gunung tinggi di seluruh kolong langit” (7:19), mungkin itu menunjuk kepada wilayah dunia yang lazim bagi Nuh dan orang-orang sebangsanya. Dari sudut pandang mereka, air membanjiri dunia yang mereka kenal, dan gunung-gunung yang telah mereka lihat, tanpa bermaksud untuk mencakup puncak-puncak gunung tinggi yang ratusan atau ribuan kilometer jauhnya dari mereka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. Kata Ibrani untuk “bumi” (‘eres) sering diterjemahkan “daratan, tanah” atau “negeri, tanah air” dan pengertiannya harus ditentukan oleh konteks. Mungkin penting bahwa kata umum lain untuk dunia (tebel) tidak muncul sama sekali dalam cerita Air Bah. Di tempat lain dalam Kitab Kejadian, kata ‘eres juga bermakna ganda dalam hubungannya dengan malapetaka yang lain, yaitu kelaparan yang terjadi di tanah Mesir pada masa Yusuf. Menurut para penafsir pada umumnya, kelaparan itu menimpa Mesir dan beberapa negara lain di sekeliling Laut Tengah, tetapi tidak perlu berpikir bahwa kelaparan itu melanda “seluruh bumi”. Mungkin acuan Rasul Petrus kepada air bah yang membinasakan “bumi yang dahulu” itu memiliki pengertian terbatas yang serupa (II Pet. 3:6). Di Kolose 1:23 Rasul Paulus bergembira bahwa Injil “telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit,” suatu pernyataan yang hampir serupa dengan Kej. 7:19, tetapi jelas dimengerti sebagai suatu hiperbol.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. Bila air bah itu terjadi secara universal. Maka air bah yang menutupi gunung-gunung setinggi 4500 meter pada waktu surut semuanya pergi ke mana? Kej. 8:1 hanya mengatakan bahwa Allah “membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun” Apakah ini berarti bahwa lautan dijadikan lebih dalam untuk menampung air yang lebih banyak itu? Lagipula waktu satu tahun yang dinyatakan dalam kitab Kejadian merupakan waktu yang amat singkat untuk air sebanyak itu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. Besarnya bahtera. Bagaimanapun besarnya bahtera itu pasti akan terbatas juga jika harus memuat semua spesies binatang di seluruh dunia ini. Dan akan menjadi sebuah tugas yang akan membuat Nuh dan sekeluarganya kewalahan jika meliputi ribuan spesies dari seluruh dunia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. Pernyataan bahwa semua gunung yang tinggi di bawah kolong langit ditutupi (7:19-20), dan bahwa menjelang akhir air bah itu puncak-puncak itu mulai kelihatan (7:5), dalam rangka ini dapat ditafsirkan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh awan dan kabut yang harus ada menyertai luapan air.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara jelas kita dapat melihat perbedaan alasan yang digunakan oleh para ahli untuk mendukung pandangan mereka, baik yang global maupun universal. Dan saya secara pribadi menganggap bahwa banjir Nuh ini terjadi secara lokal.&lt;br /&gt;Selain karena alasan-alasan yang terdapat di atas. Saya menganggap bahwa pada masa itu jumlah manusia belum banyak untuk memenuhi bumi, maksudnya pada saat itu manusia belum tersebar ke seluruh bumi. Karena bila saya perhatikan pada pasal selanjutnya dalam kitab Kejadian yaitu pasal 10:32 “Dan dari mereka (anak-anak Nuh) itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setela air bah itu.” dan pada pasal 11:11 “... dan dari situlah mereka diserakkan Tuhan ke seluruh bumi.” Nampak bahwa dari kedua ayat ini barulah manusia berpencar ke seluruh bumi.&lt;br /&gt;Jadi, kemungkinan manusia pada masa Nuh itu belum tersebar, tapi masih berada di wilayah Mesopotamia. Dan ini mengindikasikan bahwa banjir Nuh terjadi secara lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 135.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 135.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 135.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 136.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; John J. Davis, Eksposisi Kitab Kejadian, Malang: Gandum Mas, 2001, hal. 131.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 132.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 132-133.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, hal. 136-137.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ibid. hal. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6582868592810472999#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I, Jakarta: YKBK, 2002, hal. 20-21.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6582868592810472999-5923350263561282234?l=saintbernhard85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/feeds/5923350263561282234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6582868592810472999&amp;postID=5923350263561282234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/5923350263561282234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6582868592810472999/posts/default/5923350263561282234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saintbernhard85.blogspot.com/2007/10/banjir-nuh.html' title='banjir nuh'/><author><name>Michael Bernhard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16096355344246104924</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_lxxZiy9N-n8/R6rr4OMe-RI/AAAAAAAAAAM/EcShXojQVdo/S220/mmm+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
